FATHERLESS DAN TANGGUNG JAWAB GEREJA: PERSPEKTIF PASTORAL KONSELING TERHADAP PEMULIHAN IDENTITAS ANAK
DOI:
https://doi.org/10.70420/Keywords:
Fatherless, Tanggung Jawab Gereja, Pastoral KonselingAbstract
fatherless atau ketiadaan figur ayah secara fisik, emosional, atau relasional menjadi salah satu krisis utama dalam kehidupan anak di era modern. Kondisi ini berdampak mendalam terhadap perkembangan identitas anak secara emosional, sosial, dan spiritual. Dalam konteks pastoral, ketidakhadiran ayah sering kali melahirkan luka batin dan krisis identitas yang mengganggu hubungan anak dengan Allah sebagai Bapa. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran gereja melalui pendekatan pastoral konseling dalam memulihkan identitas anak-anak fatherless. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, tulisan ini menyoroti dampak fatherless terhadap pembentukan konsep diri anak, krisis identitas sebagai luka spiritual, serta pentingnya kehadiran gereja sebagai komunitas yang menyembuhkan. Gereja tidak hanya dipanggil untuk memberikan pengajaran normatif tentang keluarga, tetapi harus menjadi representasi kasih Allah Bapa melalui pelayanan konseling yang holistik dan kontekstual. Konseling pastoral menjadi sarana transformatif yang membantu anak mengganti narasi luka dengan kebenaran Injil, menemukan kembali identitas mereka sebagai anak-anak Allah.
References
Arief Subagyo, Bapa yang Tak Hadir: Krisis Peran Ayah dalam Keluarga Modern
(Yogyakarta: Kanisius, 2019).
Bambang Nurcahyo, Konseling Pastoral: Teori dan Praktik (Yogyakarta: Kanisius, 2017).
Beni Setiawan, Pentingnya Figur Ayah dalam Pendidikan Anak (Yogyakarta: Andi, 2015).
Benyamin R. Gultom, Konseling Pastoral: Pendekatan Kontekstual dalam Pelayanan Gereja
(Yogyakarta: Andi, 2018).
Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007).
Daniel B. Lie, Konseling Pastoral: Pendampingan dan Pemulihan Umat (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2011).
Erik H. Erikson, Tahap-tahap Kehidupan Manusia: Delapan Tahap Perkembangan
Psikososial (terj. A. Kaelan), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013).
Evi S. Margareth, Menjadi Gereja yang Menyembuhkan (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
.
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, ed. Revisi (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2017).
Paulus Wiryono, Psikologi Keluarga: Teori dan Praktik dalam Konteks Indonesia (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2015).
Thomas Sumartana, Manusia dalam Terang Iman Kristen (Salatiga: STT Satya Wacana,
.
Togar Simanjuntak, Luka Batin dan Pemulihan dalam Pelayanan Pastoral (Bandung: Kalam
Hidup, 2020).
Wayan Suartha, Konseling Pastoral: Merawat Jiwa yang Terluka (Yogyakarta: Penerbit
Andi, 2016).
Yohanes F. Kurniawan, Membangun Komunitas Gereja yang Menyembuhkan (Bandung:
Kalam Hidup, 2014).
Yohanes M. Purba, Allah sebagai Bapa: Gagasan Teologis dan Relevansinya bagi
Pemulihan Relasi Manusia (Salatiga: STT Satyabhakti Press, 2017).
Yuliawati Susanto, Konseling Pastoral Anak dan Remaja (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Authors

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







